Dwi Tjahja Rudatin, S.Pd : “Sekolah Minggu Biji Mata Allah”

Dwi Tjahja Rudatin Garit, S.Pd. bersama kelima cucunya di GPdI El Shadday tempat ia mendedikasikan dirinya untuk pelayanan Sekolah Minggu

Kediri, CNICOM –  Sebagaimana Aparatur Sipil Negara (ASN) (dulu : Pegawai Negeri Sipil /PNS) lainnya yang mencari kesibukan ketika memasuki masa pensiun, demikian juga dengan Dwi Tjahja Rudatin Gharit, S.Pd. Ibu dua orang anak dan nenek dari 5 orang cucu ini memilih untuk aktif menjadi pengajar Sekolah Minggu di sebuah gereja kecil di desa Bendo, Kecamatan Pare, Kabupaten Kediri.

Ketika dijumpai CNICOM di kediamannya yang cukup sederhana, perempuan berusia 69 Tahun ini menyatakaan kebahagiaannya dapat tetap berdinamika dengan anak-anak di usia tuanya. “Saya bersyukur, diusia yang hampir dipanggil Tuhan ini, saya masih dapat bersama anak-anak kecil. Mereka adalah masa depan gereja dan Negara,” ungkapnya.

Aktivitas pelayanan di sekolah minggu sendiri telah digeluti oleh pensiunan guru ini sejak beberapa puluh tahun lalu. Saat ini, ia memilih untuk mengabdi sebagai salah satu guru Sekolah Minggu di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) El Shadday, Bendo, Pare, Kediri. Di gereja ini, bersama guru-guru sekolah minggu lainnya dia melayani anak sekolah minggu yang jumlahnya hanya sekitar belasan anak.

Semangat terhadap pelayanan anak ini, menurut kedua anaknya, telah dimiliki oleh ibu semenjak menjadi guru. “Iya ibu memang sangat menyayangi anak-anak. Sejak mengajar di Banyuwangi hingga kami pindah kesini, ibu selalu menunjukkan perhatiannya kepada anak-anak. Tak jarang ketika mengajar di SDN Jeruk Wangi, Kandangan yang jaraknya 20 kiloan dari sini, beliau harus bergelantungan di bus agar tidak telat,” ungkap salah satu anaknya.

Bahkan menurutnya, Dwi Tjahja pernah hampir jatuh dari bus. “Saya pernah hampir jatuh dari bus Puspa Indah yang saya naiki, karena saya baru masuk pintu belakang, bus tiba-tiba melaju, lalu saya terjatuh. Puji Tuhan, masih ditolong Tuhan, kalau tidak tidak tahu bagaimana jadinya,” kisah Dwi dengan haru, mengingat bagaimana pertolongan Tuhan.

Pada bagian lain, istri alm Bambang Puruito ini juga menyatakan bahwa sepanjang hidupnya, penuh dengan mujizat Tuhan. Tanpa pertolongan Tuhan ia tidak akan mampu bertahan hidup. Berbagai permasalahan yang dihadapinya, tidak mungkin dapat dihadapi tanpa adanya pertolongan Tuhan.

“Pertolongan Tuhan dalam kehidupan saya sangat dasyat. Penyakit demi penyakit, kesulitan demi kesulitan telah berhasil saya lewati hingga saat ini. Ketika saya sedih ia menghibur. Ketika saya kesulitan keuangan Tuhan tolong. Dan masih banyak lagi karya Tuhan dalam kehidupan saya dan keluarga,” ungkapnya.

Ketika ditanya seputar rencana hidupnya,  Dengan penuh harap kepada Tuhan, Dwi menyatakan, “Saya rindu diberi kesehatan dan umur panjang agar dapat melihat anak cucu saya. Saya juga rindu anak cucu saya terus hidup dalam Tuhan dan melayaniNya. Karena itulah keindahan hidup. Dan …….,” diam sejenak…,”saya rindu masih dapat terus mengajar anak sekolah minggu karena mereka adalah biji mata Allah. Kita orang tua memiliki tanggung jawab untuk mengasuh mereka dengan penuh kasih sayang. Kerinduan kita kelak mereka menjadi pribadi yang cinta Tuhan dan hidup dalam pelayanan dengan segenap kehidupan mereka.” (yos)